Home » Berita, Jogja » Mensesneg: Terlalu Banyak Bahasa dan Simbol Kuasa di Istana Negara

Mensesneg ke Jogja

Mensesneg: Terlalu Banyak Bahasa dan Simbol Kuasa di Istana Negara



Pratikno ketika senam bersama warga, Minggu (9/11). (Foto: Kresna/beritajogja.co.id)

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) menceritakan pengalamannya ketika menyiapkan pelantikan menteri kabinet kerja pemerintahan Jokowi. Ketika mengurus hal soal pelantikan, Pratikno menemukan banyak sekali bahasa dan simbol kuasa di Istana Negara yang menurutnya tidak cocok dengan revolusi mental Jokowi.

“Misalnya saja waktu diminta bikin panggung untuk Gubernur atau Kepala Daerah se-Indonesia saat pelantikan. Ya saya nggak mau, meskipun itu sudah tradisi. Itu bahasa kuasa yang menjauhkan Presiden dengan pejabat daerah,” katanya, Sabtu (8/11) malam di UGM.

Pratikno meneruskan cerita,bahwa panggung juga tidak cocok dengan revolusi mental Jokowi. Dirinya langsung menyuruh panggung ditiadakan. Kursi didekatkan dan dibuat melingkar. “Paspampres awalnya melapor Jokowi, Pak Jokowi bilang kalau semuanya harus berdiri di rumput, termasuk dirinya sendiri,” ceritanya.

Bahasa kuasa lain yang ditemukan Pratikno adalah tentang pidato-pidato kenegaraan yang memakai bahasa yang menegaskan kekuasaan Presiden dan orang-orang di bawahnya. “Jadi saya bilang ke Pak Jokowi,kalau ini adalah bahasa kuasa yang nggak cocok dengan gaya pemerintahan beliau. Jadi beliau menyusun pidato yang sangat sederhana dan merakyat,” tambah Pratikno.

Facebook Twitter Share on Google+