Sosial
Franz Magnis: Ekstrimisme Agama Ancam Nilai Budaya
Masyarakat di era Orde Baru (Orba) diseregamkan oleh narasi besar yang dibangun oleh elite. Tak boleh ada perbedaan di luar sistem sosial yang didesain oleh pemerintah kala itu. Dampak dari penyeregaman ini dirasakan beberapa tahun setelah reformasi. Mendadak muncul kau ekstrimis religius yang sejak Orba ditekan sebisa mungkin agar tidak muncul. Di lain pihak, masyarakat yang tidak biasa dengan perbedaan menjadi cair dan terbelah dengan munculnya banyak kelompok ekstrimis tersebut.
Menurut Franz Magnis Suseno, Budayawan sekaligus guru besar ISTF Jakarta, membenarkan bahwa seiring muculnya kelompok ekstrimis religius berkedok agama, perpecahan kerap terjadi. Para ekstrimis juga mengancam nilai-nilai budaya lokal yang menurut tafsiran mereka tak layak berdampingan dengan ajaran agama.
“Ekstrimis religius itu gawat. Bisa mengancam dan menguapkan nilai-nilai budaya. Membunuh hal yang gampang kalau ada kutipan di kitab. Mau menolong orang, tidak tergerak atas rasa iba tapi harus lihat dulu di kitab ada perintahnya tidak. Ini gawat,” katanya ketika ditemui usai menjadi pembicara di Seminar Nasional ‘Kekerasan, Demokrasi dan HAM” di Universitas Sanata Dharma, Jumat (10/10).
Adapun yang jauh lebih mengerikan dari para ekstrimis religius ini adalah punya potensi melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Mereka tidak terikat dengan nilai sosial yang dibangun masyarakat, namun pada nilai yang ditafsirkan sendiri. Ia meluruskan pemikiran para ekstrimis yang memandang HAM sebagai produk barat.
“HAM dan demokrasi sering ditentang karena dianggap produk barat. Padahal bukan, HAM dan demokrasi itu produk modernitas yang menentang feodalisme,” tegasnya.




